Mungkinkah Kita Sudah Tertipu?

Perhatikan gambar di samping, pernahkah Anda berhenti untuk membeli buah-buahan di pinggir jalan karena tergiur oleh harga yang ditawarkan? Mungkin sebagian belum, karena tidak tergiur harga. Tapi saya pribadi pernah, akibat harga yang ditawarkan sangat murah jika dibandingkan harga pada umumnya, terutama di swalayan.


Namun jika Anda mendekat, dan membeli buah-buahan tersebut, Anda akan tersadar kalau Anda telah tertipu. Kok bisa? Yah itulah ulah pedagang, yang dengan akal-akalannya mengutak-atik harga yang tercantum. Apakah mereka salah? Jawaban saya tidak. Lantas di mana letak kesalahannya?


Jika anda ceramati, akan ada kata atau tanda per (/). Jadi otomatis harga pun tidak menipu, mungkin harga yang terlihat adalah 2500 per 1(/4) kg. Karena kata-kata atau tanda tersebut sangat kecil. Itulah ulah pedagang yang hanya ingin meningkatkan penjualannya.


Nah demikian juga dengan iklan salah satu partai terbesar di Indonesia, Demokrat. Boleh lihat gambar di samping ini. Pertanyaan yang cukup menggelitik jika disamakan dengan gambar sebelumnya. Apakah mungkin ada kata-kata tersembunyi, jika kita dekat dengan partai tersebut.


Semuanya tidak ada yang tahu, kecuali yang mempunyai atau orang-orang di sekeliling parta tersebut. Jika diibaratkan, tak ada yang mengenal rumah lebih baik selain yang mempunyai rumah tersebut. Kita tahu bahwa Nazaruddin, Angie atau Koster adalah pemilik rumah (Partai Demokrat), mana mungkin mereka tak tahu mengenai keadaan sekitarnya (jika memang ada kekuatan yang lebih besar). Dan ingat, Mereka semua adalah Kader Partai dan bukan orang di luar partai.


Itulah fenomena partai sekarang, sekali lagi Rakyat sebagi yang memilih dibutakan oleh keadaan, oleh  kharisma dan oleh ajakan (iklan). Semua orang tahu, jika tak murah dan mudah untuk mendirikan sebuah partai, apalagi membesarkannya. Memang benar apa ucapan Ketua KPK, Abraham Samad "Jika semua pencuri jujur, maka penjara akan penuh."


Itulah sekelumit fenomena sebuah partai yang telah besar sehingga penuh dengan "Kekuasaan" bukan "Kepemimpinan". Segala cara bisa dihalalkan,untuk meraihnya.

5 Responses to "Mungkinkah Kita Sudah Tertipu?"

Indra Kusuma said...

Itulah catur perpolitikan dimana saja Sob ! Dan hampir semua pelaku politik mengalami hal ini.

Sukses slalu
Salam
Ejawantah's Blog

check and carry said...

hidup didunia akn penuh harta......
tapi mereka pasti sengsara didunia dan diakhirat........

Anonymous said...

memang susah buat mmberntas korupsi, jka hnya orng2 yg brubh, namun bkn sistemnya.

izal ajah said...

iya nih, siapapun pemimpinnya, apapun partainya..korupsinya tetep..

izal ajah said...

harta memang sdah membutakan para "penguasa", sosok pemimpin hmpir punah..

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel