Polusi Udara China Tewaskan 6 Orang dan Ancam Jutaan Warga

Jarak pandang akibat polusi udara di China. (theatlanticcities.com)
Polusi udara di China telah menjadi berita utama di beberapa media. Awal tahun ini, Beijing mengumumkan program besar pemerintahannya, yang mengalokasikan 1,7 triliun Yuan atau Rp3.332 triliun untuk mengatasi masalah kabut asap ini, dalam 5 tahun kedepan.

Polusi udara yang begitu parah ini tentu membawa dampak negatif, seperti diberitakan ada sebuah desa yang penduduknya banyak terkena kanker. Polusi udara ini tentu menjadi masalah serius bagi China, yang akan "membunuh" pariwisatanya.


Namun tidak sedikit media China yang membela polusi udara ini, yang menyebutkan bahwa ini adalah efek dari perkembangan industri pertahanan China.

"Kabut asap ini mempengaruhi kesehatan masyarakat dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Tapi di medap perang, menjadi keuntungan dalam sebuah operasi militer," mengutip artikel di situs Global Times, surat kabar nasionalis partai komunis di China, yang kami lansir dari business insider.

Banyak artikel yang diargumentasikan dalam situs tersebut, untuk membela mati-matian kabut asap yang terjadi di China akhir-akhir ini. Mereka berdalih bahwa Yugoslavia membakar ban untuk menghambat serangan udara dari NATO. Ada juga badai pasir yang mengurangi jarak pandang di perang teluk pertama.

Namun tetap saja, China, terutama Beijing yang terkena polusi udara saat ini tidak dalam keadaan perang. Dan itu tentu sangat menyakitkan bagi masyarakat China, yang menyamakan kabut asap dengan keadaan perang.

Jika dibiarkan berlarut-larut, masyarakat tentu akan dirugikan dengan kesehatannya. Selama akhir pekan ini, sekitar 104 kota di China, yang termasuk daerah industri, mengalami penurunan jarak pandang yang hanya menjadi 10 meter. Kabar terbaru, polusi udara di China ini telah menewaskan 6 orang, dan membuat jutaan orang terancam kesehatannya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel