Oh Tidak... Putri Kecilku Mengidap Tuberkulosis

Penyakit Tuberkulosis.
Kelahiran putriku menjadi saat yang membahagiakan, setelah dua tahun pernikahan kami menantikannya. Namun dua hari setelah kelahirannya, hati kami sebagai orangtua hancur, saat ia harus ditempatkan di inkubator karena penyakit kuning. Apalagi bilirubinnya cukup tinggi.

Usai menjalani perawatan yang cukup melelahkan hati, akhirnya putri kami pulang dari rumah sakit. Baru beberapa bulan menjalani hidup normal, kami harus bolak balik ke rumah sakit. Si kecil sering terkena pilek, di usianya yang baru empat bulan.

Setiap kali kami datang ke rumah sakit di Jakarta, beberapa dokter hanya memberikan obat flu dan pilek. Awalnya tidak ada kecurigaan jika si kecil terkena tuberkulosis atau biasa disebut flek.

Saya dan istri percaya kepada apa yang dikatakan dokter apalagi  kami sebagai orangtua juga membawanya ke beberapa rumah sakit ternama di Jakarta. Namun diagnosa dokter tetap sama, si kecil hanya pilek biasa.

Untunglah istri saya tidak pasrah begitu saja, ia tetap penasaran dengan penyakit si kecil. Akhirnya saat pergi ke Bandung untuk menengok kakek dan nenek yang tinggal di Padalarang,  kami pun menyempatkan diri ke rumah sakit Kawaluyaan di Kota Baru Parahyangan. Yang jaraknya memang tidak jauh dari tempat tinggal orangtua istri.

Kebetulan, di sana kami berkonsultasi dengan dokter anak dr. Agustina. Beliau penasaran karena si kecil sudah lama terkena pilek dan tak kunjung sembuh. Akhirnya dokter Agustina pun melalukan serangkaian tes, termasuk tes darah.

Dan ternyata penyakit si kecil diketahui, ia mengidap Tuberkulosis atau TB. Tuberkulosis ini memang penyakit menular, yang menyerang paru-paru yang disebabkan oleh basil Mycobacterium tuberculosis. Lantas dari mana ia mendapatkan penyakit tersebut?

Dokter pun menyuruh kami sekeluarga melakukan tes juga, agar penyakit ini bisa ditumpas habis dan tidak memberikan kekambuhan lagi terutama bagi si kecil. Tapi, tidak ada seorang pun di keluarga kami yang TB.

Saya pun berpikir, "Ah, mungkin ini dari orang lain bisa teman, tetangga atau saudara yang memang sudah mengidap TB namun tidak menyadarinya. Dan saat itu sedang berada dekat dengan putri kecil kami."

Memang, kebanyakan orang tertular dari penderita TB aktif di lingkungan sekitarnya. Apalagi jika ada yang batuk terus menerus dan tidak kunjung sembuh. Tapi tidak menutup kemungkinan ia tertular dari orang lain yang mendekati, karena TB penularannya sangat mudah yaitu lewat udara. Saya baru tahu bahwa setiap orang batuk atau bersin jutaan kuman atau bakteri ikut tersebar ke udara, jadi bila ada penderita TB yang belum diobati batuk atau bersin kita disekitarnya menghirup udara itu dan membawa kuman TB ke dalam paru-paru kita.

Sangat penting bagi orangtua untuk menjauhkan bayi kita dari mereka yang memiliki penyakit batuk tidak berhenti selama satu bulan lebih, kerap demam, dan berkeringat meskipun di cuaca yang dingin. Dan gejala ini juga dialami si kecil sebelum didiagnosa dokter bahwa ia terkena TB.

Tapi ya sudahlah, nasi sudah menjadi bubur, si kecil kini harus rela mendapatkan perawatan yang panjang dan cukup melelahkan selama 6 bulan lamanya. Bisa dibayangkan, ia harus menelan obat selama enam bulan berturut-turut dan jangan sampai terputus. Ditambah ia harus makan di jam yang sama setiap harinya... jika tidak ia harus mengulangi pengobatan TB.

Sedih rasanya saat pertama kali memberikan pada putri kami yang baru berusia enam bulan, tiga jenis obat-obatan diberikan di bulan pertama. Dan ia tidak boleh menolak dengan alasan apapun juga. Dan kami sebagai orangtua harus bisa membujuk rayu si kecil agar mau meminumnya.

Di dua bulan pertama memang tidak ada kendala obat diberikan, karena putri kami yang kecil pun masih kooperatif. Tetapi di bulan ketiga dan keempat, ia sempat mogok menelan obat. Mungkin karena bosan, tidak enak atau entah, karena ia belum bisa berkomunikasi dengan baik.

Tapi mau tidak mau, kami memaksanya dengan beragam rayuan dan bujukan. Hingga akhirnya enam bulan pengobatan rasanya sangat lama namun kami mampu menjalaninya. Melihat kondisi si kecil yang sudah mulai membaik, pilek menghilang, batuk tidak ada lagi, dan keringat di malam hari sudah berkurang, melegakan kami berdua.

Alhamdulillah, setelah enam bulan pengobatan intensif ia dinyatakan 'lulus'. Dokter Agustina yang memantaunya setiap bulan - cek up rutin - cukup gembira melihat kemajuan anak kami. Pada bulan keenam pengobatan, kami pun memeriksakan kembali kondisi si kecil - dahak dan rontgen - yang saat itu sudah berusia satu tahun. Dan betul, hasilnya memuaskan, ia dinyatakan bebas kuman Tuberkulosis.

Kini anak kami sudah berusia tiga tahun lebih, dan semenjak pengobatan Tuberkulosis secara intensif, ia tidak mempunyai keluhan seperti dulu lagi.

Awalnya memang menyedihkan melihat anak kecil harus meminum obat setiap hari, dan rutin keluar masuk rumah sakit setiap bulan. Tapi hasilnya dapat kami lihat saat ini. Ia tumbuh sehat dan lebih kuat terhadap penyakit.

Saat ini memang banyak orangtua yang memiliki masalah sama, tapi banyak dari mereka yang takut untuk melakukan pengobatan ini. Namun bisa saya sarankan, untuk melakukan pengobatan TB sampai tuntas agar si kecil bisa tumbuh sehat dan normal. Temukan obati sampai sembuh.

Kebanyakan orang takut berobat TB dikarenakan biaya yang harus dikeluarkan, salah satunya saudara sepupu saya yang tubuhnya kering kerontang, bahkan pernah disebutkan hampir mau meninggal karena enggan berobat. Meskipun akhirnya keluarga tersebut kami yakinkan, dan mereka pun membawanya ke puskesmas terdekat. Hingga saat ini sembuh total tanpa mengeluarkan biaya sepeserpun karena obat TB gratis, kecuali untuk transportasi saja.

Nah, jika ada keluarga di sekitar Anda memiliki gejala-gejala TB seperti batuk tak kunjung sembuh, badan meriang, sering berkeringat di malam hari hingga berat badan turun drastis, ada baiknya untuk langsung memeriksakan ke puskesmas terdekat. Dijamin tidak ada biaya apapun untuk pengobatan TB di puskesmas.

Ayo kita lawan Tuberkulosis dan jadikan Indonesia bebas TB. Lebih Lanjut klik: TB Indonesia

Loading...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

loading...

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel